Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang baru tercapai disambut dengan sukacita oleh warga Lebanon. Dalam poin kesepakatan tersebut, tertuang janji penghentian perang secara menyeluruh, yang diharapkan juga mengakhiri agresi Israel terhadap Lebanon. Warga Lebanon merayakan kabar ini dengan turun ke jalan, menari, dan menyanyikan tarian tradisional DAPK sebagai wujud kebahagiaan.
Sebelum adanya kesepakatan ini, konflik antara Hizbullah dan Israel di perbatasan Lebanon berlangsung sangat intens. Hizbullah terus melancarkan serangan presisi menggunakan drone peledak yang menargetkan markas militer dan kendaraan lapis baja Israel. Sebaliknya, Israel melakukan serangan udara yang menghantam apartemen di Beirut, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa serta kerusakan parah pada bangunan di sekitarnya. Pihak Israel berdalih bahwa serangan tersebut menargetkan pusat komando Hizbullah sebagai respons atas tembakan yang diarahkan ke wilayah mereka.
Kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran ini diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Perjanjian tersebut rencananya akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni. Kesepakatan ini bersifat permanen dan mencakup penghentian seluruh operasi militer, pembukaan kembali Selat Hormus, serta pengakhiran blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Munculnya asap putih di sekitar Gedung Putih pun dianggap sebagai simbol tradisi yang menandai tercapainya kesepakatan damai ini.
Selain penghentian perang, rincian kesepakatan mencakup rencana rekonstruksi Iran senilai 300 miliar dolar AS, pencairan aset Iran yang dibekukan sebesar 24 miliar dolar AS, serta pembicaraan mengenai program nuklir dalam 60 hari ke depan. Meskipun dukungan telah datang dari berbagai pihak termasuk Sekjen PBB Antonio Guterres, terdapat dinamika menarik di mana media AS, CNN, mencatat bahwa Amerika Serikat telah berkali-kali mengklaim kesepakatan serupa di masa lalu.
Di sisi lain, terdapat klarifikasi dari pemerintah Iran yang menegaskan bahwa keputusan final mengenai kesepakatan tersebut masih dalam proses dan belum sepenuhnya selesai. Jubir Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Bagai, menyatakan bahwa negosiasi masih jauh dari kata final. Namun, laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa penandatanganan kesepakatan tetap berpotensi besar berlangsung di Jenewa, Swiss, dalam waktu dekat. Hingga saat ini, dunia masih menantikan apakah janji perdamaian ini akan benar-benar terwujud secara nyata.
