Donald Trump kembali menyatakan bahwa Iran sepakat berdamai dengan Amerika Serikat. Terkait rencana tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai posisi Israel, yang selama ini dikenal sebagai pihak yang paling vokal menentang normalisasi hubungan antara kedua negara tersebut. Untuk membahas hal ini, tvOne mengundang pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi.
Hasibullah menilai situasi saat ini layaknya tikungan terakhir sebelum mencapai garis finis dalam sebuah kesepakatan. Meskipun ada harapan besar bahwa kesepakatan akan segera ditandatangani, prosesnya masih sangat alot. Salah satu kendala utama adalah perbedaan klaim mengenai waktu penandatanganan. Presiden Trump sempat menyebutkan hari Minggu, namun pihak Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai hari tersebut. Hal ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan bentuk kontrol dari Iran agar tidak terkesan tunduk atau mengikuti skenario Amerika Serikat di hadapan publik global.
Selain itu, terdapat alasan substantif yang krusial, yaitu mengenai Selat Hormuz. Bagi Iran, Selat Hormuz adalah kunci yang dapat memberikan tekanan besar kepada Amerika melalui dampak ekonomi global. Saat ini, pengambil kebijakan di Iran merasa berada di posisi yang menguntungkan namun masih bimbang untuk mengambil keputusan final karena menyadari adanya potensi keuntungan yang lebih besar jika mereka terus bernegosiasi. Namun, ini juga merupakan pertaruhan, karena menunda kesepakatan terlalu lama bisa berisiko jika eskalasi perang meningkat.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah momentum pemilu di Amerika Serikat pada bulan November. Politik ‘up and down’ yang diterapkan Trump dipandang sebagai strategi untuk menghadapi tekanan pemilu. Bagi Iran, situasi ini menciptakan dinamika yang rumit dalam pengambilan kebijakan. Terakhir, perubahan tradisi kepemimpinan di Iran yang kini lebih mengedepankan proses konsensus—karena kondisi pemimpin tertinggi yang tidak dalam keadaan prima—membuat pengambilan keputusan menjadi lebih memakan waktu dibandingkan masa sebelumnya.

